Rabu, 24 Februari 2010

P O S T U R

Postur atau perawakan dapat dideteksi sejak dini. Postur menunjukkan karakteristik individu tidak hanya dapat membedakan antar individual. Secara umum postur yang baik apabila seseorang dalam posisi berdiri akan tampak seimbang pada garis segmentalnya baik dari samping maupun dari sisi depan.
Postur yang buruk dapat disebabkan oleh adaptasi otot, tulang dan persendian dalam waktu yang lama berada pada posisi yang tidak benar. Pengawasan sejak usia dini sangat dianjurkan. Beberapa penyebab buruknya postur diantaranya menonton televisi dalam waktu yang lama pada posisi kurang baik, kebiasaan posisi duduk yang tidak tepat, diet yang kurang tepat, pencahayaan ruangan tidak memadahi, akibat berat badan atau beban yang lain, dan tones otot yang buruk (lebih spesifik pada bagian punggung). Kondisi Postur yang Buruk diidentifikasi sebagai
a. Lordosis. Memunyai karakteristik pembentukan kurva ke depan pada bagian bawah tulang punggung, dan sacrum.
b. Kyphosis. Mempunyai karakteristik pembentukan kurva ke belakang pada bagian atas tulang punggung.
c. Scoliosis. Mempunyai karakteristik pembentukan kurva ke samping pada tulang punggung, yang dapat terjadi dua bentuk yaitu huruf C atau huruf S.
Untuk dapat melihat kondisi postur anak perlu adanya pengawasan melalui posture assessment chart yang dapat dijadikan dokumen perkembangan postur anak dari waktu ke waktu.

TAKSONOMI GERAK

Fokus utarna dari para pelaku pendidikan jasmani ialah memenuhi tugasnya dalarn membantu manusia untuk bergerak secara efisien, untuk meningkatkan kualitas penampilan mereka. untuk mempertinggi kemampuan belajar, dan memelihara kesehatan. Untuk memenuhi keseluruhan tugas yang ada, para pelaku pendidikan jasmani menjadikan gerakan sebagai kunci utama dalam pendidikan jasmani dan olahraga karena gerakan fisik yang konstan telah menjadi karakteristik manusia sehingga melalui gerakan diharapkan tujuan pendidikan dapat dicapai. Gerakan fisik secara luas diartikan sebagai suatu perubahan posisi dari suatu objek pada suatu ru-ang yang melibatkan sebagian atau seluruh tubuh.
Konsep-konsep tertentu yang berhubungan dengan gerakan yang harus dimengerti oleh para guru dan siswa. Menurut Bucher (1983:92) Konsep-konsep gerakan sebenarnya merupakan aspek-aspek dari empat komponen gerak yang terdiri dari
1. Kesadaran Ruang (Spatial Awareness - Where dose the body move ?)
Kesadaran ruang mengandung tipe ruang (space). Maksudnya, tubuh bergerak sesuai dengan arah (di-rection), tingkatan (level), alur (path-way) yang dilalui tubuh saat bergerak.
a. Ruang (Space)
Semua gerakan terjadi pada suatu ruang. Ada dua jenis ruang yaitu Per-seorangan (personal) dan umum (ge-neral). Ruang perseorangan (personal space) ialah ruang terbesar yang dapat digunakan oleh seseorang pada posisi tetap, seperti ruang yang dapat dicapai oleh seseorang dengan meregang, membengkok dan melipat. Ruang umum (general space) ialah daerah tempat seseorang atau beberapa orang dapat bergerak, seperti dalam gedung, kolam renang atau ruang terbuka. Besarnya ruang yang dapat digunakan dan jumlah orang dalam ruang tertentu memengaruhi kemungkinan bergerak.
Pengertian tentang konsep ruang perorangan dan ruang umum ini sangat penting bagi perkembangan gerak anak di masa berikutnya. Konsep ini harus selalu ditekankan tidak sekedar sekali atau dua kali saja, tetapi diharapkan akan tumbuh kesadaran akan keamanan sambil bergerak dalam ru-ang perseorangan dan ruang umum de-ngan menekankan tidak terjadi sentuh-an dan benturan (no toucching and no collisions). Di masa mendatang anak yang telah memiliki bekal penguasaan tentang kesadaran ruang, baik ruang perorangan maupun ruang umum, akan mampu menempatkan posisi badannya sesuai kebutuhan ruang geraknya agar tidak terjadi benturan atau perebutan dengan orang lain, seperti di jalan raya. Seseorang yang memiliki bekal kesadaran ruang akan mampu mem-perkirakan cukup dan tidaknya dia masuk di antara dua kendaraan lain. Da-lam bidang keolahragaan, seseorang yang memiliki bekal kesadaran ruang akan mampu mempertahankan pengu-asaan bola dengan selalu menjaga posisi bola tidak dalam jarak jangkauan lawan. Banyak contoh lain yang meng-gambarkan manfaat penguasaan kesa-daran ruang.
b. Arah (Direction)
Dengan adanya pengertian terha-dap ruang perseorangan dan ruang umum, siswa sekarang dapat menerap-kan perubahan arah sambil bergerak dalam ruangan. Arah di sini dimak-sudkan pada gerak maju, mundur, ke samping, ke atas, ke bawah, menyilang atau kombinasinya dan dapat menge-nali mata angin. Kemampuan untuk bergerak dalam arah yang beraneka ra-gam merupakan hal yang vital agar berhasil diberbagai bidang, baik olahraga, menari dan senam. Tujuan dalam konsep arah ini ialah untuk membuat anak mengerti semua arah gerak yang ada. Di masa mendatang anak yang telah memiliki bekal penguasaan tentang arah akan mampu dengan mudah me-ngenali posisinya baik untuk kepen-tingan gerak umum maupun gerak ke-olahragaan, cepat merespon tentang instruksi arah maupun petunjuk-petunjuk arah yang seharusnya dilaksanakan da-lam tugas geraknya.
c. Tingkatan (level)
Tubuh bergerak pada berbagai landasan horizontal seperti tinggi, se-dang, dan rendah. Tujuan mengajarkan konsep tingkatan ini antara lain
1) untuk membedakan antara tingkatan tinggi, sedang, dan rendah,
2) untuk melakukan perubahan sesuai dengan tingkatan landasan,
3) untuk mengkombinasikan perubahan-perubahan tingkatan bersama
Penguasaan tentang konsep ting-katan ini mencakup perubahan posisi benda tertentu. Di masa mendatang anak yang telah memiliki bekal penguasaan tentang tingkatan ini akan mam-pu mengenali posisi dirinya maupun benda lain dalam kaitanya dengan gerak umum maupun keolahragaan, seperti kemampuan seseorang memprediksikan ketinggian aman dirinya dari benturan pintu, dalam keolahragaan kemampuan untuk melemparkan objek aman dari jangkauan lawan yang akan merebutnya.
d. Alur (Pathway)
Alur disini merupakan suatu ga-ris gerak dari satu tempat ke tempat lain pada suatu ruang yang tersedia. Hal itu mungkin berupa gerakan seluruh tubuh pada ruang umum. Sebagai contoh, suatu ayunan pemukul secara horizontal dengan lengan.
Dalam mengajarkan konsep alur memiliki tujuan
1) menciptakan kesadaran siswa dengan berbagai alternatif bagaimana mereka dapat bergerak, baik alur yang dibuat secara langsung mau-pun tidak langsung,
2) mengembangkan kemampuan tubuh untuk bergerak melalui ber-bagai alur,
3) membuat siswa mampu mengidentifikasi dan bergerak pada alur khusus.
Di masa mendatang anak yang telah memiliki bekal penguasaan tentang alur akan mampu dengan mudah mengenali daerah tertentu yang pernah dilaluinya dan dapat memilih jalan ter-pintas untuk mencapai suatu tempat tujuan, bahkan dia akan mudah dalam mengartikan sebuah denah atau petunjuk yang sederhana sekalipun yang berkaitan dengan pencarian sesuatu. Di bidang keolahragaan penguasaan terhadap alur ini akan memberikan kemampuan yang lebih baik pada olah-ragawan yang membutuhkan pengu-asaan peta maupun mengingat alur yang harus dilalui sampai pada garis finish.

2. Kesadaran Tubuh (Body Awarenes - What can the body do ?)
Kesadaran tubuh ini utamanya berhubungan dengan identifikasi bagi-an-bagian tubuh dan kemampuan anak untuk menggabungkannya dengan ge-rak dasar. Gerak dasar ini dibagi men-jadi tiga kategori:
Gerak Lokomotor (berjalan, berlari, mengayuh sepeda, dan lain sebagai-nya)
Gerak Non Lokomotor (menekuk, me-regang, mendorong dan sebagainya)
Gerak Manipulasi (memantul, melem-par, memukul dan sebagainya)
Pengelompokan ini memung-kinkan bagi siswa untuk meniru dan melakukan suatu atau sekelompok ge-rakan yang dipilih dari kategori yang berbeda.

3. Kualitas Gerak (Qualities of Move-ment-How does the Body Move)
Bagaimana tubuh bergerak dipe-ngaruhi oleh kualitas-kualitas tertentu dari gerakan termasuk waktu, kekuatan, aliran, dan ruang. Faktor tambahan seperti ukuran tubuh dan hubungan tubuh terhadap orang lain atau objek juga mempengaruhi gerakan tubuh.
a. Waktu (Time)
Waktu berhubungan dengan ke-cepatan pada saat gerakan dilakukan. Hal ini mungkin bervariasi dari kecepatan yang sangat cepat hingga sangat pelan. Pada beberapa cabang olahraga kemampuan untuk mengubah kecepatan merupakan hal yang diperlukan, dan juga gerakan eksplosif secara tiba-tiba juga diperlukan pada beberapa kegiatan cabang olahraga, seperti bola basket,dimana pertimbangan power/daya ledak sangat di-perlukan untuk melakukan rebound.
b. Kekuatan (Force)
Kekuatan adalah potensi atau kemampuan yang dimiliki tubuh untuk
melawan beban atau tahanan. Kekuatan itu dapat diamati dan efek dari
apa yang dirniliki tubuh sesorang ter-hadap objek yang lain. Efek itu tercer-
min dengan bergeraknya atau berkembangnya obyek. Kekuatan yang diturunkan oleh tubuh diproduksi oleh kontraksi otot. Sebagai tambahan da-lam proses produksi kekuatan, tubuh juga mampu menerapkan dan menyerap kekuatan. Gerakan-gerakan yang
berbeda membutuhkan bermcam-macam tingkatan kekuatan dan penerap-
pan yang benar dari kekuatan tersebut untuk mendukung gerakan. Sebagai contoh, karena perbedaan alat, akan diperlukan kekuatan yang lebih kecil untuk memukul bola dengan pemukul yang lebih panjang dari pada pemukul yang lebih pendek, tuas yang lebih panjang akan mengakibatkan keun-tungan mekanik. Ada beberapa saat yang tepat dalam menggunakan keku-atan kekuatan. Kekuatan itu harus digunakan untuk menggerakkan tubuh atau bagiannya dalam suatu ruang, untuk melawan tarikan gravitasi, atau menjaga suatu postur atau posisi tubuh yang baik. Satu faktor penting dalam mempertimbangkan kekuatan, yaitu bahwa kekuatan tersebut harus dikontrol.
c. Aliran (Flow)
Aliran (Flow) itu merupakan ke-lanjutan atau koordinasi gerakan. Suatu gerakan yang halus, dan mengalir membutuhkan kontrol kekuatan inter-nal maupun eksternal, sehingga akan ada trasisi yang sesuai dari berbagai gerakan tersebut. Gerakan itu secara bebas mengalir atau mereka mungkin merupakan gerakan yang berbentuk aliran. Gerakan dengan aliran gerak bebas menggambarkan suatu gerakan yang dilanjutkan hingga diakhiri dengan kontrol. Dalam hal lain, gerakan yang berbentuk aliran mengarah pada gerakan yang dapat dihentikan sementara sambil menjaga keseimbangan pada beberapa titik gerakan. Suatu con-toh ialah saat melakukan suatu rang-kaian gerakan senam di atas matras, dimana pada beberapa titik pesenam tersebut membutuhkan menghentikan gerakan dalam posisi seimbang sebe-lum melanjutkan rangkaian gerakan yang terkoordinasi dengan baik.
d. Ukuran Tubuh (Body Shape)
Ukuran tubuh mengarah pada po-sisi tubuh dalam ruang. Perubahan ukuran dalam gerak, kadang tubuh diregangkan (memanjang atau mele-bar) atau dibengkokkan (melipat atau mengerut dan melingkar). Dalam membentuk tubuh untuk bergerak pada daerah yang terbatas, dapat terjadi be-ragam kegiatan diperlukan tubuh untu mencapai ukuran tertentu.

4. Hubungan (Relathionshin)
Hampir di semua cabang olah-raga, menari dan kegiatan yang meng-gunakan alat, anak tidak bergerak sendiri dalam ruangan. Mereka bergerak bersama seseorang, melawan sese-orang, mengatasi rintangan atau menggunakan alat dari berbagai jenis.
a. Hubungan dengan Benda (Obyek)
Ada dua bentuk dasar hubungan dengan obyek, yaltu mempulasi dan nonmanipulasi. Hubungan manipulasi, anak dipusatkan dengan usaha mengontrol gerakan dari obyek, seperti melempar bola pada sasaran tertentu. Hubungan nonmanipulasi bertujuan untuk menyesuaikan gerakannya ter-hadap obyek yang tetap, seperti me-lakukan rangkaian gerakan di atas mat-ras.
b. Hubungan dengan Manusia
Katagori gerakan ini mencakup gerakan-gerakan apa saja yang mung-kin dan sering dilakukan dengan orang lain. Ada beberapa kemungkinan yang bisa dikembangkan. Tidak adanya orang lain yang bergerak (kerja indi-vidu) mengarah pada satu situasi di mana pelaku secara keseluruhan bebas dan bertanggung jawab atas gerakan yang dilakukannya sendiri. Di saat be-kerja dengan orang lain / partner, atau melawan orang lain seseorang mung-kin menirukan pola gerakan orang lain. Pada saat bekerja dalam suatu ke-lompok, seseorang mungkin bergerak mengikuti pemimpin/gurunya baik un-tuk bernerak denvan beberana orang lain, bergerak dalam merespon kelom-pok lain, dan bergerak dalam berbagai situasi. Semua gerakan yang dilakukan bersama orang lain hares dikoordi-nasikan.
Tuiuan program secara keseluruhan dalam mempelaiari hubungan antara manusia ialah kemampuan un-tuk mengoordinasikan pola¬pola gerak-an tersebut dalam ruangan, dengan su-atu pandangan kearah penggunaan pengetahuan tentang kualitas gerakan, kesadaran tubuh, dan perbedaan bentuk gerakan.

KINESTETIK BAGIAN DARI KECERDASAN MAJEMUK

Kegiatan Pendidikan anak usia dini hendaknya memperhatikan 9 (sembilan) kemampuan kecerdasan anak, yaitu :
(1)Kecerdasan Linguistik (Linguistic Intelligence) yang dapat berkembang bila dirangsang melalui berbicara, mendengar, membaca, menulis, diskusi, dan bercerita.
(2) Kecerdasan Logika Matematika (Logico-Matematical Intelligence) yang dapat dirangsang melalui kegiatan menghitung, membedakan bentuk, menganalisis data, dan bermain dengan benda-benda.
(3) Kecerdasan Visual Spasial (Visual Spasial Intillegence) yaitu kemampuan dalam memahami ruang yang dapat dirangsang melalui bermain balok-balok dan bentuk-bentuk geometri, melengkapi puzzle, menggambar, melukis, menonton film maupun bermain dengan daya khayal(imajinasi)
(4)Kecerdasan Musikal (Musical / Rhytmic Intelligence) yang dapat dirangsang melalui irama, nada birama, berbagai bunyi dan bertepuk tangan.
(5) Kecerdasan Kinestetik (Bodily / Kinesthetic Intelligence) yang dapat dirangsang melalui gerakan, tarian, olah raga, dan terutama gerakan tubuh.
(6) Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelligence), yaitu mencintai keindahan alam, yang dapat dirangsang melalui pengamatan lingkungan, bercocok tanam, memelihara binatang, termasuk mengamati fenomena alam seperti hujan, angin, banjir, siang-malam, panas-dingin, bulan-matahari.
(7) Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal Intelligence) yaitu kemampuan untuk melakukan hubungan antar manusia (berkawan) yang dapat dirangsang melalui bermain bersama teman, bekerja sama, bermain peran, dan memecahkan masalah serta menyelesaikan konflik.
(8) Kecerdasan Intarpersonal (Intarpersonal Intelligence) yaitu kemampuan memahami diri sendiri yang dapat dirangsang melalui pengembangan konsep diri, harga diri, mengenal diri sendiri, percaya diri, termasuk kontrol diri dan disiplin.
(9) Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence) yaitu kemampuan mengenal dan mencintai ciptaan tuhan, yang dirangsang melalui penanaman nilai-nilai moral dan agama.
Kecerdasan Kinestetik yang merupakan bagian dari kecerdasan majemuk adalah ruang lingkup pembinaan penjaskes pada usia dini, senantiasa menuntut para pembina untuk dapat membimbing gerak fisik untuk keperluan pengendalian perawakan sehingga berkembang pada penguasaan ketrampilan yang optimal, demikian saja tidak menjadi cukup apabila seorang pembina penjaskes tidak mampu mengarahkan gerak fisik anak untuk sekaligus sebagai pengembangan 8 (delapan) kecerdasan yang lain.
(Contoh-contoh pengembangan kecerdasan majemuk melalui kecerdasan kinestetik akan disamaikan pada kesempatan yang lain)

Senin, 22 Februari 2010

PENDIDIKAN JASMANI UNTUK USIA DINI

Pendidikan jasmani pada anak usia dini harus ditangani secara tepat, untuk itu setiap pembina pendidikan jasmani sudah semestinya memikirkan secara mendalam apa itu pendidikan jasmani, untuk keperluan apa, bagaimana penanganan yang sesuai, karakter moral yang harus ditanamkan, dan pencapaian kemampuan gerak yang dihasilkan.
Melalui penanganan yang tepat diharapkan perkembangan motorik dan ketrampilan motorik anak akan mendukung aspek penting kehidupan anak menyongsong masa depannya, diantaranya : kesehatan yang baik, katarsis emosional, kemandirian, hiburan diri, hubungan sosial dan percaya diri.
Kegiatan pendidikan jasmani pada anak usia dini menitik beratkan pada pengembangan kecerdasan kinestetik (gerak) untuk mendukung pengembangan kecerdasan yang lain. Diharapkan pembina pendidikan jasmani mampu memberikan suplemen gerak secara tepat dengan mengkaitkan pada pengembangan kecerdasan yang lain, misalkan pengembangan kecerdasan logika matematika melalui gerak lari memindahkan bendera dengan jumlah yang dientukan.
Selain pengembangan kecerdasan majemuk melalui kecerdasan kinestetik, pendidikan jasmani haruslah mempertimbangkan taksonomi gerak sebagai acuan pencapaian dasar-dasar gerak yang akan mampu membekali pencapaian kemampuan gerak yang lebih komplek dimasa mendatang. Dengan demikian kemampuan pembina pendidikan jasmani dalam mengkaitkan kecerdasan majemuk dan layanan terhadap kebutuhan taksonomi gerak adalah faktor penting keberhasilan pendidikan jasmani. Tidak kalah pentingnya adalah kerjasama pembina pendidikan jasmani dengan orangtua anak didik dalam pemantauan postur tubuh anak, sehingga kesempurnaan perawakan anak akan mendukung proses hidupnya dimasa mendatang. (kecerdasan majemuk, taksonomi gerak, dan postur tubuh akan dibahas topik lain)







Sabtu, 16 Februari 2008

GUDANGNYA TEORI PENDIDIKAN: TEORI PEMBELAJARAN KOOPERATIF

www.trimanjuniarso.wordpress.com www.djokoawcollection.blogspot.com

TEORI PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Bagi mereka yang mengkritisi model pembelajaran individual dan kompetisi
tentu akan menemukan ketidakberesan model tersebut dalam pembentukan karakter perilaku peserta didik. Model pembelajaran kooperatif memberikan pilihan
alternatif untuk pembentukan karakter perilaku peserta didik lebih humanistik,
dan lebih sosialistik karena dilakukan dalam wahana yang menyuburkan peserta
didik berinteraksi dalam lingkungannya secara lebih apresiatif.
Pendidikan nasional yang mencitakan kemuliaan ahlak dan budi pekerti, serta kepandaian dan ketrampilan (dan juga nasionalisme ke-Indonesia-an) ternyata hanya menghasilkan kepandaian saja. Bukti sudah banyak tentang ketiadaan konsistensi cita-cita dan implementasi pendidikan kita selama ini. Oleh karenanya itu semua harus dihentikan. Mulailah dengan kemuliaan dan semangat baru !
Model atau teori pembelajaran kooperatif ini menjelaskan tentang pandangan-pandangan teoritik pembelajaran kooperatif itu sendiri dan aplikasi nyata dalam pembelajaran. Selengkapnya baca di trimanjuniarso.wordpress.com

Pendapat anda tentang materi situs ini ?

Video Menarik

Loading...